//
you're reading...
Tak berkategori

Filosofi Kendi

Mungkin banyak yang sudah mendengar tentang filosofi kendi, saya pribadi beberapa kali mendengar/membaca mengenai filosofi kendi ini.

Ada yang menceritakan mengenai bagaimana filosofi kendi ini muncul karena adanya suatu kebiasaan yang dilakukan manusia yang berkaitan dengan sebuah kendi. Dimana seseorang(pemilik rumah) yang dengan sukarela menggantungkan sebuah kendi berisi air matang di pagar rumahnya yang dimaksudkan untuk diminum oleh siapa saja yang merasa haus, terutama bagi orang yang sedang menempuh perjalanan yang jauh. Kebiasaan tersebut menjadikan suatu cerita tersendiri dimana sebuah kendi menjadi suatu filosofi yang berkaitan dengan kepedulian antar sesama manusia.

Kemudian ada juga yang menafsirkan filosofi kendi ini sebagai perumpamaan dimana sebuah kendi menjadi sangat berguna bila diisi penuh dengan air matang yang kemudian kendi tersebut siap untuk mengucurkan air untuk diminum siapa saja sampai kendi menjadi kosong kembali dan diisi kembali.

Sebuah perumpaan yang tepat untuk menggambarkan seorang manusia yang mengisi dirinya dengan ilmu, kemudian ilmu yang telah dipelajarinya “dikucurkan” kepada manusia lainnya, sehingga ilmu tersebut menjadi lebih bermanfaat, berkembang dan mudah untuk diakses/dipelajari oleh siapa saja. Dan itulah manusia yang bermanfaat, yang tidak habis-habisnya mencari ilmu kemudian terus membaginya(berbagi) dengan manusia lainnya, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa bermanfaat untuk manusia lainnya. Dan tentu untuk menjadi manusia yang bermanfaat salah satunya adalah adanya keberanian untuk ikhlas dan rela dalam/untuk berbagi.

Satu lagi pernah saya dengar tentang filosofi kendi ini, berkaitan dengan bentuk dari kendi itu sendiri,

Kendi

Kalau kita perhatikan gambar kendi disamping, bentuk kendi pada umumnya adalah adanya 2 lubang kecil, yaitu, diatas dan dibagian perut kendi sebagai tempat masuk dan keluarnya air.

Dari bentuk kendi itulah muncul suatu filosofi kendi, walau (diameter)lubang masuk air lebih kecil, tapi kendi memiliki ukuran (diameter)perut yang besar sehingga bisa menampung air yang banyak.

Lubang kecil sebagai masuknya air itu diibaratkan seperti keadaan bumi yang terlihat kecil dibanding apa yang dikandung oleh bumi. Kita semua tahu, bumi terlihat hanya memiliki daratan dan lautan, namun bila kita menggalinya lebih dalam, kandungan dalam bumi ternyata sangat banyak dan bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Begitu juga dari cara kendi mengeluarkan air melalui lubang keluar yang juga (berdiameter)kecil, bahwa air dalam kendi dikeluarkan tidak sekaligus namun sedikit-demi sedikit, sehingga setiap manusia bisa merasakan segarnya air dalam kendi. Dari situ kita bisa belajar, bagaimana seharusnya manusia memanfaatkan kandungan dalam bumi, secara baik, sedikit-demi sedikit sesuai yang dibutuhkan dan tidak serakah.

Mungkin lebih banyak lagi filosofi yang berkaitan dengan sebuah kendi di luar sana, namun dari tiga hal tafsiran mengenai filosofi kendi diatas, saya pribadi bisa mencoba menyimpulkan, bahwa dari filosofi kendi kita bisa mencoba, minimal sebagai bahan renungan, bahwa manusia memang sudah seharusnya(berkewajiban) untuk lebih memperhatikan kepedulian antar sesama manusia, keberanian untuk berbagi dengan ikhlas dan tidak menjadi serakah. Tentu keutamaan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya jauh lebih banyak dibanding tiga keutamaan yang baru saya sebutkan.

Diskusi

7 Tanggapan to “Filosofi Kendi”

  1. Filosofi kendi ternyata sangat banyak ya, terima kasih mas buat artikelnya..

    - Rizal -

    Posted by Pelatihan Motivasi | Desember 23, 2010, 10:11 am
  2. keren dan menginspirasi untuk berbagi ilmu dengan sesama tanpa ragu.Isilah diri kita dengan ilmu sebanyak-banyaknya agar bermanfaat buat orang lain bukan buat diri sendiri.

    Posted by tinoess | Desember 23, 2010, 11:37 am
  3. @Rizal: Terima kasih kembali mas kunjungannya, betul sekali dari sebuah kendi banyak yg bisa kita pelajari.

    @Tinoess: Betul sekali mas Tinoess, terima kasih kunjungannya.

    Posted by Faisal | Desember 23, 2010, 8:29 pm
  4. oke deh, mengerti maksudnya kok …. hehe

    kunjungin balik blog gw ya tank ,,, ^^

    Posted by feisafirmansyah | Desember 25, 2010, 2:06 am
  5. @Fei ahaha fey, ditunggu fey

    Posted by Faisal | Desember 25, 2010, 9:42 pm
  6. betul sekali, “dengan baik dan tidak serakah..”

    Posted by anang nurcahyo | Januari 1, 2011, 2:32 pm

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.